Senin, 01 November 2010

Pengertian Keindahan Bentuk dan Ekspresi

Arsitektur menurut Ishar adalah nilai-nilai yang menyenangkan mata dan pikiran,yang berupa nilai-nilai bentuk dan ekspresi.


A. Pengertian Keindahan Bentuk
Keindahan bentuk memiliki dasar tertentu, yang disebut prinsip estetika seperti keterpaduan, keseimbangan, proporsi,skala, irama dan urutan.Pencapaian keindahan bentuk ini didukung pula oleh pemenuhan aspek-aspek fisik atau teknis fungsi dan struktur.

1. Unity/kesatuan
Cara membentuk kesatuan adalah dengan penerapan tema desai. Ide yang dominan akan membantu kekuatan dalam desain tersebut. Unsur-unsur rupa yang dipilih disusun dengan/untuk mendukung tema.
· Tersusunnya beberapa unsur menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi
· Keterpaduan dari yang paling sederhana sampai ke yang rumit
· Keterpaduan bentuk-bentuk geometris

2. Keseimbangan
Prinsip utama keseimbangan dalam segala macam komposisi adalah keseimbangan. Keseimbangan merupakan suatu kualitas nyata dari setiap obyek dimana perhatian visual dari dua bagian pada 2 sisi dari pusat keseimbangan adalah sama.
· Keseimbangan formal/simetris yaitu ada daya tarik visual dari obyek, khususnya di kedua sisi pusat keseimbangan.
Kenyamanan estetika yang dihasilkan oleh keseimbangan nampaknya memiliki sesuatu yang berhubungan dengan kualitas gerakan mata sewaktu bergerak dari suatu sisi kesisi yang lain menemukan daya tarik yang sama pada separuh bagian kiri dan separuh bagian kanan.
· Keseimbang informal/asimetris yaitu kesimbangan yang tidak menitik beratkan pada garis potong tengah tetapi lebih bebas, tidak banyak aturan tetapi tetap nampak sama berat.

3. Proporsi
Hubungan antar bagian dari suatu design dan antara bagian dengan keseluruhan. Menurut vitruvius ada hubungan tertentu antara bagian terkecil dengan keseluruhan. Proporsi merupakan hasil perhitungan bersifat rasional dan terjadi bila kedua buah perbandingan adalah sama a:b=c:d (a,b,c,d = ukuran tinggi, lebar, dan kedalaman dari suatu unsur-unsur atau massa keseluruhan bangunan).
Sumber proporsi adalah :
Kepekaan perbandingan dari sang pencipta. Masalah proporsi sangat penting sekali, apapun yang menjadi perwatakan suatu komposisi visual, mutu penampakannya akan ditentukan sekali oleh kepekaan terhadap perbandingan.
Konsep proporsi yang diterapkan menurut pemikiran timur didasari pada ukuran tubuh manusia.

4. Skala

Skala adalah suatu sistem pengukuran yang menyenangkan, dapat dalam satuan cm, inchi, atau apasaja dari unit-unit yang akan diukur. Gambar skala adalah dimensi yang diapaki untuk gambar sebagai perbandingan, misalnya 1 m struktur digambar 1cm dalam gambar. Jadi ukuran dalam gambar, menyatakan ukuran sebenarnya dari bangunan.
Dalam arsitektur yang dimaksud skala adalah hubungan yang harmonis antara bangunan beserta komponen-komponennya, dengan manusia. Segala sesuatu yang kita lihat selalu dibandingkan dengan ukuran manusia. Elemen-elemen dan prinsip skala dapat menghasilkan skala-skala yang baik yaitu :
Skala akrab menggunakan prinsip yang dapat menimbulkan kesan lebih kecil dari besaran sesungguhnya.
Skala akrab dapat dicapai melalui :
- Pemakaian ornamen yang lebih kecil dari ukuran standart/biasanya.
- Pembagian yang lebih besar (pembuatan garis bidang )
- Penerapan skema bahan dan warna yang sederhana, bentuk datar/rata)
- Pertimbangan pencahayaan yang redup

Skala normal/manusiawi dapat diperoleh dengan pemecahan masalah fungsional secara wajar. Besarnya ukuran dimana manusia bekerja adalah menurut fungsinya dan standar-standar yang ada.

Skala megah bersifat berlebihan dan dapat diperoleh dengan :
- Penerapan satuan yang lebih besar dari biasanya.
- Perletakan elemen yang berukuran kecil berdekatan dengan elemen yang besar sehingga tampak perbedaan ukuran besarnya.
- Penerapan langit-langit tinggi.

Skala mencekam, manusia sulit merasakan pertalian dirinya dengan ruang. Umumnya, skala ini terdapat di alam bukan buatan manusia.

5. Irama
Irama dalam arsitektur merupakan elemen yang menggugah emosi/persaan yang dalam. Dalam rancangan, irama merupakan perekat yang menyatukan unsur-unsur masing-masing menjadi satu kesatuan.
Hakekat Irama adalah menelusuri sifat perseptual manusia dalam memandang bangunan, dimulai dari mata yang meluncur ke bagian bangunan, dari unit satu ke unit lainnya dengan teratur. Irama dapat diperoleh dengan cara :
  •  Pengulangan (repetisi)
- Garis
- Bentuk misal; jendela, pintu, kolom, dsb.
- Tekstur ; kasar, halus, kayu, batu, dsb.
- Warna
  •  Gradasi (perubahan)
- Dimensi
- Warna : dari gelap ke terang atau sebaliknya
- Bentuk : perubahan bentuk secara bertahap
  •  Oposisi
Adalah pertemuan garis pada sudut siku-siku, misalnya dalam daun pintu, lemari, dinding, dsb.
  •  Transisi
Adalah perubahan pada garis-garis lengkung.
  •  Radial
Adalah irama yang beradiasi pada sentral axis (sumbu sentral).
  •  Progresif
Irama progresif dibentuk oleh perubahan yang teratur, sedemikian rupa sehingga bentuk mirip dengan yang lain. Jarak yang satu dengan yang lain hampir sama. Dengan demikian tumbuh irama progresif karena menunjukkan gerak/ perubahan progresif. Irama naik, turun, naik turun dan sebaliknya. Tidak ada bentuk dan jarak yang sama yang diulang.
Jenis-jenis irama yaitu :
  •  Irama statis didapat dengan cara pengulangan bentuk, garis, dan dimensi.
  •  Irama dinamis didapat dengan cara :
- pengulangan bentuk atau garis dengan perletakan yang berbeda.
- pengulangan bentuk/garis dengan jarak yang berbeda.
- pengulangan bentuk/garis dengan dimeni yang berbeda.
  •  Irama terbuka dan tidak menentu didapat dengan cara pengulangan bentuk/garis dengan jarak yang sama tanpa permulaan dan akhiran.
  •  Irama tertutup dan tertentu didapat dengan cara :
- Merubah bentuk unit paling akhir.
- Merubah ukuran/dimensi unit paling akhir.
- Kombinasi kedua-duanya.
- Menambahkan dengan mencolok suatu elemen di akhir irama.

6.Sequence/pengulangan
Menurut hk ishar, urut-urutan adalah suatu peralihan/perubahan pengalaman dalam pengamatan terhadap komposisi. Urut-urutan atau peralihan/perpindahan ini mengalir dengan baik, tanpa kejutan yang tak diduga, tanpa perubahan yang mendadak. Tujuan penerapan prinsip urut-urutan dalam arsitektur adalah untuk membimbing pengunjung ketempat yang dituju dan sebagai persiapan menuju klimaks. Urut-urutan pengalaman meliputi persiapan (approach), pengalaman utama (progression) dan akhiran (ending). Dalam persiapan kita membuat pembingkaian, pandangan sepintas, atau peralihan agar apa yang kita lihat tidak mengejutkan atau peringatan. Dalam pengalaman utama pengunjung merasakan apa yang dilihat/dialami setelah masuk. Pada pengakhiran pengunjung berhenti dan istirahat maka diperlukan pedoman orientasi atau klimaks.
Kekuatan klimaks dapat diperoleh dengan cara :
- Membuat bentuk yang sama mirip dengan pengarahan tetapi lebih besar.
- Memberi cahaya yang kontras dengan pengarahanya misal dengan memberi lampu-lampu yang menembus dinding/atap dengan memberi tirai kaca berwarna dan sebagainya.
- Perubahan tinggi mendadak, tetapi tidak ada kesamaan bentuk.
- Membuat bentuk yang lain sama sekali tidak mengejutkan karena ada cukup persiapan/pengarahan.
Dalam suatu karya arsitektur yang baik terdapat :
- Urut-urutan dalam segi keindahan bentuk (ada proses menuju klimaks)
- Urut-urutan dalam fungsi.
- Urut-urutan dalam struktur.

B. Pengertian Keindahan Ekspresi

Keindahan ekspresi timbul dari pengalaman dan dalam arsitektur pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman melihat atau mengamati. Oleh karena itu yang dapat dilihat adalah bentuk, maka dalam arsitektur media untuk mendapatkan keindahan arsitektur adalah bentuk bangunan.
Dengan pengalaman mengamati, memasuki, menempati kita dapat merasakan sikap batin arsitek. Adapun elemen-elemennya adalah :
1. Karakter
Merupakan perwujudan antara ekspresi dan fungsi. Louis Sulivan : “tampak luar banguan adalah cermin dari fungsi di dalamnya”. Karakter merupakan aspek utama merancang yang bersifat menyeluruh setiap keputusan di desain. Tema berkaitan erat dengan karakter. Aspek teknis menyangkut pemenuhan syarat, fungsi dan struktur adalah karakter, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Karakter arsitektur yang khas akan menentukan eksistensi arsitektur sebagai lingkungan buatan diantara lingkungan fisik dan budaya.

2. Warna
Warna dapat berperan untuk memperkuat bentuk dan mampu memberikan kepada pikiran dan jiwa manusia yang melihatnya. Warna menentukan karakter, juga dapat menciptakan suasana yang kita harapkan.
Di bawah ini beberapa karakter warna ditunjukkan dalam sifat : 
jenis warna
  • kuning = bebas, ceria
  • kuning Hijau = tenang, menyenangkan
  • hijau = tenang, ramah cendekia
  • hijau biru = angkuh, mantab
  • biru = keras, dingin
  • biru ungu = sombong, suka menghayal tanpa kendali
  • Ungu = tinggi, ekstrim
  • ungu merah = tegang, peka
  • Merah = panas, melelahkan urat syaraf
  • Jingga = gembira, bergairah
  • jingga kuning = lincah bergairah
  • abu-abu = menenangkan
  • biru telor asin = dapat dimakan, buah
  • biru hitam = menekan
  • coklat hitam = menolak, menghindar, menjijikan
  • ros kulit telor ayam = ringan tangan, menyambut tamu, ramah

3. Style/gaya
Gaya sebagai salah satu penentu keindahan ekpresi merupakan cara membangun atau merancang secara berbeda dengan yang lain. Gaya antara lain dapat ditentukan menurut sejarah misalnya : gaya romanik byzantum, barok, renaisans, gotik, internasional, post modern, dll. Pemakaian bahan bangunan, perbedaan iklim, penerapan detail-detail sesuai pribadi arsitek.

4. Bahan/material
Bahan yang kita pakai dalam desain dapat menimbulkan kesan tertentu misal :
- Bahan logam : menimbulkan kesan dingin, padat, keras.
- Kayu berpori : menimbulkan kesan hangat.
- Bahan kaca : bersifat tembus pandang dan memantulkan cahaya dapat memberi kesan hidup dan ringan.

Pemakaian bahan/material akan menimbulkan suatu motif dan tekstur.
- Motif adalah ornamen dua atau tiga dimensi yang disusun menjadi pola atau ragam tertentu. Motif dapat dibentuk oleh tekstur dan bentuk. Susunan benda dalam ruang juga disebut motif. Motif mempunyai arah gerak maka penempatan motif harus sejalan dengan irama ruang. Pemanfaatan berbagai macam motif akan menimbulkan kesan kacau.
- Tekstur adalah halus kasar permukaan benda, baik yang dapat dilihat atau yang dapat diraba. Tekstur kasar punya kesan maskulin dan haus mencerminkan hal-hal resmi/formal dan anggun. Tekstur kasar dan tebal cenderung membuat ruangan lebih kecil dan sempit. Tekstur licin dan ringan punya kesan luas dan terang. Tekstur kasar mempunyai intensitas lebih gelap begitu sebaliknya dengan tekstur licin.

C. Teori Vitruvius
VITRUVIUS

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.
 
UTILITAS/Fungsi Bangunan/Arsitektur  
Dalam hal fungsi bangunan dan arsitektur memiliki persamaan, yakni untuk mewadahi manusia dengan segala aktifitas serta peralatannya. Dalam segi bentuk dan ukuran sama-sama memiliki dimensi yang besar yang cukup untuk melingkupi kegiatan manusia dalam tiga dimensi sehingga manusia dan peralatannya dapat diwadahi oleh bangunan atau juga arsitektur. Pada bentukan dan sistem struktur yang digunakan juga merupakan hal yang sama, dan arsitektur memang bangunan yang diberi nilai dan estetika.
Perbedaan antara bangunan dan arsitektur terletak pada estetikanya, karena estetika itu berbeda pula nilai dan tampilannya. Bila bangunan hanya dinilai dari segi fisik yaitu bahan yang digunakan (kekuatan, keawetan, ketahanan) dan fungsinya, pada arsitektur tidak hanya itu, arsitektur juga dinilai seni dan keindahannya. Jadi bila pada bangunan, dalam posisi dan fungsi yang sama, semakin besar dan semakin kokoh bangunan itu maka harganya akan semakin mahal. Namun pada arsitektur, dapat juga yang lebih kecil walau fungsinya sama mempunyai harga yang lebih mahal karena nilai seni dan keindahannya tinggi. Dengan demikian dalam berarsitektur efisiensi itu sangat diperlukan juga penggunaan teknologi yang mutakhir, untuk mendapat nilai dan seni yang lebih tinggi. Karena harga dari arsitektur tidak hanya dari kegunaan dan kapasitasnya, namun juga dari tampilan dan nilai-nilai kearsitekturalnya, yang tidak dimiliki oleh bangunan.

FIRMITAS/ Kekuatan bangunan
Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang baik dari bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat. Vitruvius menjelaskan setiap material yang ia pakai dalam bangunannya, seperti batu bata, pasir, kapur, pozzolana, batu dan kayu. Setiap material dijelaskan mulai dari karakteristik dari tiap jenis-jenisnya hingga cara mendapatkanya/membuatnya. Kemudian, ia menjelaskan metode membangunnya (konstruksi).

1 komentar: